Minggu, 06 November 2016

Itu Mawar Merah Asli

Aku meminta izin
Untuk menjatuhkan hati disitu,
Di tempat kau berdiri menanti kereta lewat yang tak juga berhenti.
Buket mawar merah ada di genggamanmu. Kelopaknya sudah layu dan meninggalkan berkas kecoklatan di setiap sisinya.

Di stasiun yang mulai kosong, aku menatapmu dari ujung kaki ke ujung kepala. Pria di sebelahku masih berceloteh, kata-katanya segar tapi ekspresinya datar. Aku tak pernah bosan mendengarnya bicara, seperti ia juga tak pernah bosan menatap tajam ke dalam mataku.

Sesekali pria itu memintaku untuk balik metapanya. Aku mengaguminya setinggi langit, tapi langit tak pernah jadi tinggi ketika aku berada di atas awan.

Aku mengaguminya, selalu terpesona dengan pria itu apapun yang ia lakukan. Tapi saat ini bukan pria dengan rambut yang baru tercukur itu yang jadi pusat perhatian. Tapi itu kau, lelaki dengan mawar merah layu di genggaman.

Suara kereta terus berisik, namun tak ada satupun yang berhenti tepat di hadapanmu kemudian merubah warna pipinya menjadi merona ketika kau menyodorkan mawar itu padanya.

Langkahku menghampirimu, kuraih buket itu dan mendekatkanya ke hidung.

Mawar merah yang layu dan tidak wangi.

Itu mawar merah asli.

Bukan bunga plastik yang tak bisa layu.

Atau bunga mawar asli yang diberi parfum.

Kamis, 20 Oktober 2016

Segelas Jus Mangga

Pertama kalinya terbangun, menyadari bahwa ternyata waktu bukan obat.

Waktu hanya kumpulan detik, menit dan jam yang terus berlalu, bukan jalan kecil berkelok kelok yang mampu membuat kita lupa akan masa lalu.

Masa lalu akan tetap disitu, hanya berjarak dua centimeter ketika kita menoleh ke belakang. Namun ia juga jauh, sangat jauh hingga tak mungkin bagi kita untuk menempuhnya kembali.

Foto di atas meja masih sama. Tiga orang wanita, dua orang pria. Kelimanya tersenyum. Itu mungkin hari paling bahagia yang pernah dilalui hingga detik ini. Dress dengan paduan warna hijau mint dan pink, juga pipi yang merona setiap kali dia berkata, "Kamu cantik"

Itu adalah hari paling bahagia yang pernah dilalui hingga detik ini.

Mungkin ini hanya pemikiran yang terlalu melankolis. Seseorang bernama logika berteriak di otak kiri.

"Ini tidak berguna! Ini tidak berguna!"

Ada juga yang berbisik lembut, berkata bahwa melirik ke belakang adalah hal yang lumrah. Ia adalah bagian tubuh yang merajai semua sistem otak. Ia bernama hati. Perasaan.

Tapi dengan senyum sinis aku menanggapinya dengan sabar, lagi-lagi perasaan harus menang. Ia membiarkan otak terus berkelana ke ujung tahun-tahun silam. Menyesali seluruh sikap kekanakan yang membuat si orang pendiam itu merasa sangat kesal.

Suatu saat aku pernah berkata pada si pendiam, "Aku ingin melihatmu marah"

Lalu aku melihatnya marah berkali-kali.

Aku juga meminta maaf berkali-kali.

Hingga kami lelah entah lelah untuk apa. Kami tak pernah membahasnya, komunikasi bagi kami artinya meluapkan emosi dan meminta maaf.

Tak pernah ada bicara empat mata. Bicara santai sambil menikmati jus dan kue coklat. Membahas masalah dengan rileks, menyampaikan pemikiran dengan hati terbuka.

Kami tak pernah melakukan itu.

Aku ingin kembali dan memesankan segelas jus mangga untuknya.

Rabu, 19 Oktober 2016

Di Dunia yang Diam

Di dunia yang diam
Sepasang mata bercerita
Tentang fenomena, tentang gosip tetangga
Apa dengan hanya sepasang mata, maka sebuah kisah akan sempurna
Dengan prolog dan ending yang dapat diterka?

Di dunia yang diam
Tangan kanan mencuri
Tangan kiri memberi
Apa kanan dan kiri adalah batasan mutlak bagi ukuran benar dan salah?

Di dunia yang diam
Tempat pemikir tersingkir
Tempat maya lebih hidup dari nyata
Tempat perempuan nakal menjadi idola
Dan perempuan baik hanya sandiwara
Lalu menurutmu aku harus jadi perempuan apa?

Di dunia yang diam
Aku hanya ingin menjadi perempuan
Di dunia yang diam

Yang hanyut dalam sajak dan syair
Berpikir larut hingga otak tergelincir
Berjingkat, menari di atas pasir

Di dunia yang diam
Di dunia yang gaduh
Di dunia apa saja biar aku berjingkat
Berjingkat, menari di atas pasir

Minggu, 16 Oktober 2016

Don't Worry, Allah is Here (Sambil Nunjuk Dada)

Anak muda rasanya nggak afdhal kalau nggak galau. Mulai dari bangun tidur aja udah galau. Bangun? Atau tidur lagi?? Apalagi kalau kita tinggal di Bandung. Adzan shubuh hujan rintik-rintik, dingin, romantis. Pengenya tarik selimut aja lagi. Tidur lagi. Mimpi ketemu dia yang entah siapa :p

Galau mungkin berkaitan erat dengan bisikan syetan (iya gitu?). Kayanya sih iya kalau galau kita urusanya dunia. Nggak kelar-kelar. Capek mikirinya. Insomnia. Stress. Nafsu makan berkurang. Overthinking!

Jadi gimana dong, sister akhwat dan brother ikhwan?

Denger-denger sih galau itu berawal dari terlalu banyak berpikir dan kurang berdzikir. Jadi kalau otak kita berputar di masalah yang itu melulu, coba tengok deh apakah kita selalu menautkan hati dan masalah kita pada Illahi Rabbi?

Ini bukan ceramah. Bukan wejangan. Apalagi mantra buat menggandakan uang. Cuma tulisan seadanya yang lebih pas banget buat diri sendiri. Berusaha memanajemen otak dan hati adalah cara paling efektif meredakan syndrome galau akut. Jadi yuk, mari kita sama-sama banyak berdzikir, beristighfar, dan membaca ayat-ayat-Nya agar Allah tak segan memberikan ketenangan di hati kita :)

Jumat, 30 September 2016

Untuk Lelaki Pejuang Mahar

Sayang,
Malam ini senyap memeluk rembulan
Selimut menghangatkan sisa lelah sepekan
Mata ini sayu namun kantuk belum ingin hinggap

Aku mendengar detak sayup jauh di sana
Di entah berantah, di tempat yang tak dapat ditemukan oleh google maps
Suaramu yang lembut itu dekat ke tanah
Sedikit sedikit naik ke langit
Kemudian Dia tersenyum padamu, memaklumi betapa seringnya engkau memanjatkan do'a ini

Aku tahu apa yang terselip di sela-sela harapanmu
Itu aku, yang saat ini tersenyum simpul sambil mengorek-ngorek kata yang tepat untuk kutulis dalam prosa
Mencoba memahami isi hatimu, juga penggalan do'a do'a serupa yang siang malam tak henti kuucap

Sabarlah sayang,
Lari atau merangkak ke perbaikan diri, nanti kita bertemu dalam dimensi yang entah kapan atau dimana
Dimensi yang khusus Dia ciptakan untuk kita
Dibungkus takdir, dihiasi ketaatan

Sayang, jika rindu tak terbendung
Bacalah surat cinta yang telah Dia siapkan untuk kita
Biar suara yang tak begitu merdu itu mendongkrak langit, memberi tenang

Jika tak cukup bagimu
Rebahkan diri
Pejamkan mata dan hujamkan di hati
Aku menunggu untuk mengecup keningmu di ujung malam

Aku menunggumu,
Jadi jangan pernah lelah untuk bersujud dan berperang

Wahai lelaki pejuang mahar

Jumat, 16 September 2016

Pindahan Surga

Serempak surga hilang
Terbuai di mimpi-mimpi
Tersamar warna pelangi
Tapi pelangi sudah menghitam, tergerus polusi
Asap hitam yang muncul dari sifat tamak manusia

Kini surga berpindah dari langit ke bumi
Menampakan diri atas nama modernisasi
Mereka gencar memplokamirkan hedonisme adalah jalan hidup
Belanja itu kebutuhan, makan malam hanya selingan
Paha dan dada terbuka itu fenomena biasa
Sungguh, surga sudah berpindah dari langit ke bumi

Lalu pura-pura lupa teriakan hati
Patuh aturan itu ketinggalan zaman
Dekat dengan Tuhan itu bukan kebutuhan

Tapi nanti
Di usia enam puluh lima
Teriakan di hati baru ingin kita hayati
Atau mungkin nanti
Ketika tubuh terbujur kaku terpendam tanah

Nanti
Sebaiknya jangan tunggu nanti





Selasa, 30 Agustus 2016

Menyeberang Mimpi

Cekungan malam di titik tengah. Batas indera meredup sayup, tersedot buaian aktivitas di siang benderang.

Genderang hening ditabuh keras tanpa suara. Raga dan ruh menyatu tetapi mereka terekstraksi. Lalu ruh yang ringan itu melayang ke atas, membuka tabir di belakang hidup nyata.

Mereka juga nyata pada awalnya. Bergerak dengan jantung yang sama seperti yang saat ini berdetak. Terlalu banyak rasa yang mengelilingi. Warna-warna merah muda juga hijau keemasan. Seperti tak lelah berlari, jatuh kemudian bangkit lagi dengan corak senada. Aku masih saja ingat bekas luka dari lutut yang berdarah dan sobek.

Tadi pukul dua puluh tiga tiga puluh kabut tipis berarak di kaki gunung, menandakan udara begitu dinginya. Tapi rekahan memori bahkan menusuk ke kulit lebih dingin lagi. Mereka merembes perlahan ke alam mimpi, menjadi refleksi paling presisi untuk rekahan pagi di esok hari.

Refleksi itu sekali-sekali.

Reparasi setiap hari.