Rabu, 19 Oktober 2016

Di Dunia yang Diam

Di dunia yang diam
Sepasang mata bercerita
Tentang fenomena, tentang gosip tetangga
Apa dengan hanya sepasang mata, maka sebuah kisah akan sempurna
Dengan prolog dan ending yang dapat diterka?

Di dunia yang diam
Tangan kanan mencuri
Tangan kiri memberi
Apa kanan dan kiri adalah batasan mutlak bagi ukuran benar dan salah?

Di dunia yang diam
Tempat pemikir tersingkir
Tempat maya lebih hidup dari nyata
Tempat perempuan nakal menjadi idola
Dan perempuan baik hanya sandiwara
Lalu menurutmu aku harus jadi perempuan apa?

Di dunia yang diam
Aku hanya ingin menjadi perempuan
Di dunia yang diam

Yang hanyut dalam sajak dan syair
Berpikir larut hingga otak tergelincir
Berjingkat, menari di atas pasir

Di dunia yang diam
Di dunia yang gaduh
Di dunia apa saja biar aku berjingkat
Berjingkat, menari di atas pasir

Minggu, 16 Oktober 2016

Don't Worry, Allah is Here (Sambil Nunjuk Dada)

Anak muda rasanya nggak afdhal kalau nggak galau. Mulai dari bangun tidur aja udah galau. Bangun? Atau tidur lagi?? Apalagi kalau kita tinggal di Bandung. Adzan shubuh hujan rintik-rintik, dingin, romantis. Pengenya tarik selimut aja lagi. Tidur lagi. Mimpi ketemu dia yang entah siapa :p

Galau mungkin berkaitan erat dengan bisikan syetan (iya gitu?). Kayanya sih iya kalau galau kita urusanya dunia. Nggak kelar-kelar. Capek mikirinya. Insomnia. Stress. Nafsu makan berkurang. Overthinking!

Jadi gimana dong, sister akhwat dan brother ikhwan?

Denger-denger sih galau itu berawal dari terlalu banyak berpikir dan kurang berdzikir. Jadi kalau otak kita berputar di masalah yang itu melulu, coba tengok deh apakah kita selalu menautkan hati dan masalah kita pada Illahi Rabbi?

Ini bukan ceramah. Bukan wejangan. Apalagi mantra buat menggandakan uang. Cuma tulisan seadanya yang lebih pas banget buat diri sendiri. Berusaha memanajemen otak dan hati adalah cara paling efektif meredakan syndrome galau akut. Jadi yuk, mari kita sama-sama banyak berdzikir, beristighfar, dan membaca ayat-ayat-Nya agar Allah tak segan memberikan ketenangan di hati kita :)

Jumat, 30 September 2016

Untuk Lelaki Pejuang Mahar

Sayang,
Malam ini senyap memeluk rembulan
Selimut menghangatkan sisa lelah sepekan
Mata ini sayu namun kantuk belum ingin hinggap

Aku mendengar detak sayup jauh di sana
Di entah berantah, di tempat yang tak dapat ditemukan oleh google maps
Suaramu yang lembut itu dekat ke tanah
Sedikit sedikit naik ke langit
Kemudian Dia tersenyum padamu, memaklumi betapa seringnya engkau memanjatkan do'a ini

Aku tahu apa yang terselip di sela-sela harapanmu
Itu aku, yang saat ini tersenyum simpul sambil mengorek-ngorek kata yang tepat untuk kutulis dalam prosa
Mencoba memahami isi hatimu, juga penggalan do'a do'a serupa yang siang malam tak henti kuucap

Sabarlah sayang,
Lari atau merangkak ke perbaikan diri, nanti kita bertemu dalam dimensi yang entah kapan atau dimana
Dimensi yang khusus Dia ciptakan untuk kita
Dibungkus takdir, dihiasi ketaatan

Sayang, jika rindu tak terbendung
Bacalah surat cinta yang telah Dia siapkan untuk kita
Biar suara yang tak begitu merdu itu mendongkrak langit, memberi tenang

Jika tak cukup bagimu
Rebahkan diri
Pejamkan mata dan hujamkan di hati
Aku menunggu untuk mengecup keningmu di ujung malam

Aku menunggumu,
Jadi jangan pernah lelah untuk bersujud dan berperang

Wahai lelaki pejuang mahar

Jumat, 16 September 2016

Pindahan Surga

Serempak surga hilang
Terbuai di mimpi-mimpi
Tersamar warna pelangi
Tapi pelangi sudah menghitam, tergerus polusi
Asap hitam yang muncul dari sifat tamak manusia

Kini surga berpindah dari langit ke bumi
Menampakan diri atas nama modernisasi
Mereka gencar memplokamirkan hedonisme adalah jalan hidup
Belanja itu kebutuhan, makan malam hanya selingan
Paha dan dada terbuka itu fenomena biasa
Sungguh, surga sudah berpindah dari langit ke bumi

Lalu pura-pura lupa teriakan hati
Patuh aturan itu ketinggalan zaman
Dekat dengan Tuhan itu bukan kebutuhan

Tapi nanti
Di usia enam puluh lima
Teriakan di hati baru ingin kita hayati
Atau mungkin nanti
Ketika tubuh terbujur kaku terpendam tanah

Nanti
Sebaiknya jangan tunggu nanti





Selasa, 30 Agustus 2016

Menyeberang Mimpi

Cekungan malam di titik tengah. Batas indera meredup sayup, tersedot buaian aktivitas di siang benderang.

Genderang hening ditabuh keras tanpa suara. Raga dan ruh menyatu tetapi mereka terekstraksi. Lalu ruh yang ringan itu melayang ke atas, membuka tabir di belakang hidup nyata.

Mereka juga nyata pada awalnya. Bergerak dengan jantung yang sama seperti yang saat ini berdetak. Terlalu banyak rasa yang mengelilingi. Warna-warna merah muda juga hijau keemasan. Seperti tak lelah berlari, jatuh kemudian bangkit lagi dengan corak senada. Aku masih saja ingat bekas luka dari lutut yang berdarah dan sobek.

Tadi pukul dua puluh tiga tiga puluh kabut tipis berarak di kaki gunung, menandakan udara begitu dinginya. Tapi rekahan memori bahkan menusuk ke kulit lebih dingin lagi. Mereka merembes perlahan ke alam mimpi, menjadi refleksi paling presisi untuk rekahan pagi di esok hari.

Refleksi itu sekali-sekali.

Reparasi setiap hari.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Jomblo Fii Sabiilillaah

Kamu jomblo? Jangan khawatir. Artikel berikut mungkin bisa membuat para jomblo lebih bisa menghirup udara segar.

Dalam keseharian kita, jomblo memang di bully. Didiskriminasi. Dipandang sebelah mata. Seolah punya pacar itu sama berprestasinya seperti seorang atlet peraih medali emas.

Padahal mindset setiap orang dalam mengatur hubungan dengan lawan jenis sangat beragam. Jadi menjudge jomblo dengan label "nggak laku" kayanya sih sudah tidak relevan dengan pola pikir manusia kekinian.

Bagi saya, jomblo itu pilihan. Lifestyle. Kalau memang belum menemukan yang "klik" kenapa sih harus menggadaikan hati kita ke seseorang yang belum tentu bisa menjaganya dengan baik? Banyak hikmah kok, banyak nilai positif yang dapat kita raih selama masa penantian menuju hubungan yang benar-benar diridhai.

Keuntungan menjadi jomblo:
1. Hemat
Kita nggak perlu mblo, malem mingguan nonton ke bioskop berdua, dinner romantis di kafe mahal, atau sekedar bawain martabak buat calon mertua.

2. Punya waktu "me time" yang lebih berkualitas
Kalo kita jomblo nih, hobby bisa dimaksimalkan, tidur lebih nyenyak karena nggak usah mikirin si dia.

3. Bisa lebih sering nongkrong sama temen tanpa takut dimarahin pacar
Terhindarlah kita dari sikap posesif dari pasangan atau sebaliknya, sikap posesif kita terhadap pasangan.

4. Hidup slow, kalem, santai
Kenapa? Karena sama sekali nggak ada tuntutan, nggak ada marahan, nggak ada cemburu-cemburuan.

5. Tidak mengalami patah hati
Asli. Ini asli.

6. Jomblo membawa kita untuk berusaha lebih dekat dengan-Nya
Nah ini nih, ini yang disebut jomblo fii sabiilillaah. Jomblo di jalan-Nya. Daripada pedekate nggak jelas, mending pedekate aja deh sama Dia. Terus perbaiki diri, perbanyak nongkrong di masjid, datangi majelis ilmu.
Yakin saja kalau memang sudah waktunya, jodoh akan datang dengan jalan yang bisa jadi tidak terduga.

Jadi, masih galau nggak, mblo?!?

Kamis, 25 Agustus 2016

Berat

Berat.

Kata sifat.

Seperti juga kata ganteng dan cantik, "berat" juga bersifat relatif.

Mendengar kata "berat" entah mengapa selalu dikaitkan dengan beban hidup. Keluh kesah dalam menapaki beban hidup seolah menjadi sarapan pagi, makan siang, dan menu dinner paling hits di semua kalangan. Semua individu berlagak paling menderita, paling resah susah gelisah atas beban maha berat yang bersarang di pundaknya.

Media sosial juga sangat mendukung aktivitas keluh kesah ini. Coba deh buka akun twitter, instagram, facebook atau apapunlah yang lagi ngehits. Sekali lagi amati, most people of the day kebanyakan melakukan dua hal di akun media sosialnya. Pertama, nyombong. Kedua, ngeluh.

Salah? Tidak juga, sih. Hanya saja kebiasaan keluh kesah membuat sebuah pola di alam bawah sadar kita bahwa apapun masalah yang terbentang di hadapan kita adalah sesuatu yang sulit dan kita tak memiliki kemampuan untuk mendominasi apalagi mengeksekusinya.

Dan sekali lagi, berat itu relatif. Beban hidup dan anugerah adalah definisi yang timbul dari perspektif diri dalam menyikapi suatu keadaan yang tidak menguntungkan.

Saya jadi teringat quotes yang menjadi cikal bakal tulisan ini. Tertulis dengan bordiran sederhana di jaket salah satu santri Daarut Tauhid. Quotes yang bukan dicetuskan oleh seorang motivator ternama sekaliber Om Mario Teguh, bahkan saya juga nggak kepikiran buat nyimpen quotes di punggung jaket 😝😝😝

Quotes itu amat sederhana tapi kok rasanya "jleb" banget di hati. Quotes itu hanya terdiri dari satu kalimat.

"Pribadi tangguh pantang mengeluh"